MANAJEMEN
SUMBER DAYA MANUSIA
KEPUASAN
KERJA
Oleh : Theo Manggalapi Wibowo
Mahasiswa Prodi Akuntansi,
Universitas Gunadarma
Email : theomanggalap@gmail.com
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam realita yang ada karyawan dan perusahaan
adalah dua buah aspek yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena
keduanya sangat berkaitan dalam menjalankan suatu proses di mana keduanya ada
di dalamnya. Sebagai contoh suatu perusahaan yang mempunyai produktivitas yang
tinggi serta motivasi yang tinggi akan menghasilkan kinerja serta pencapaian
tujuan yang menguntungkan perusahaan tersebut, dan jika karyawan perusahaan itu
tidak mempunyai produktifitasa dan motivasi yang tinggi tentu akan membawa
kemunduran bagi perusahaan bahkan bias membawa kebangkrutan. Karyawan atau
pegawai yang puas dengan apa yang diperolehnya dari perusahaan akan memberikan
sesuatu yang lebih untuk perusahaan dan kemudian ia akan berusaha
memperbaiki kinerjanya sehingga ia pun terus mendapat kepuasan kerja yang
kemudian akan menghasilkan hasil kerja yang maksimal. Perusahaan harus
mengenali faktor-faktor yang mampu menghasilkan kepuasan kerja bagi karyawan
sehingga perusahaan akan terus maju dan berkembang dan kemudian menjalankan apa
yang seharusnya perusahaan lakukan untuk mencapai kepuasan kerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Beberapa hasil penelitian terdahulu yang
berhubungan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
|
No
|
Nama
Tahun
|
Judul
|
Kesimpulan
|
|
1.
|
Garry
Surya Changgriawan
(2017)
|
Pengaruh Kepuasan
Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di One Way Production
|
Kepuasan
kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan di One Way Production.
Motivasi kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan di One
Way Production. Kepuasan kerja memiliki pengaruh yang lebih besar daripada
motivasi kerja terhadap kinerja karyawan di One Way Production.
|
|
2.
|
Florida Dessy Putri Sanuddin
(2013)
|
Pengaruh Kepuasan
Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Semen Tonasa
|
Kepuasan
kerja dan motivasi kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja
karyawan. Temuan ini menunjukkan bahwa kepuasan dan motivasi kerja secara
bersama-sama dapat meningkatkan kinerja. Hasil perhitungan uji t diketahui
bahwa variabel kepuasan kerja memiliki pengaruh yang paling dominan jika
dibandingkan dengan motivasi kerja (Alpha 10%).
|
|
3.
|
Dimas Rizky Akbar
(2014)
|
Pengaruh Kemampuan, Motivasi dan
Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja
Pegawai Negeri
Sipil di Lingkungan Kecamatan Tambaksari Surabaya
|
Sebaiknya untuk mendorong motivasi kerja yang lebih baik
diberlakukan sistem penilaian, penghar-gaan dan sanksi. Budaya kerja dalam
sistem penialian dan penghargaan yang adil dan mendasarkan pada kinerja akan
dapat mendorong motivasi individual sehingga lebih kompetitif.
|
|
4.
|
Suwardi, Joko Utomo
(2011)
|
Pengaruh Motivasi
Kerja, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Organisasional Terhadap Kinerja Pegawai
|
Secara
bersama-sama variabel motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional
terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai
Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.
|
|
5.
|
Nasuka, Andi Tri
Haryono, dan Leonardo B Hashiolan
(2017)
|
Pengaruh Kepuasan
Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT BPR BKK Semarang
|
Secara bersama-sama kepuasan kerja dan motivasi kerja
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. BPR BKK semarang
|
|
6.
|
I
Made Adi Suryadharma, I Gede Riana, dan
Desak Ketut Sintaasih
(2016)
|
Pengaruh Kepemimpinan
dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja
|
Kepemimpinan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan karyawan, kompensasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan karyawan.
|
|
7.
|
Rifdah Abadiyah, dan Didik Purwanto
(2016)
|
Pengaruh Budaya Organisasi,
Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja
Dan Kinerja Pegawai Bank di Surabaya
|
Budaya
organisasi
berpengaruh terhadap kepuasan kerja dapat diartikan bahwa dengan adanya
budaya
organisasi yang baik akan menumuhkan
kepuasan pegawai.
|
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja
merupakan suatu tanggapan emosional seseorang terhadap situasi dan kondisi
kerja. Kepusaan kerja merupakan sesuatu yang sangat sulit diukur yang bersifat
subjektif karena setiap orang selalu mempunyai keinginan-keinginan yang ingin
dipenuhi namun setelah terpenuhi muncul lagi keinginan-keinginan lainnya,
seakan-akan manusia itu tidak mempunyai rasa puas dan setiap pegawai mempunyai
kriteria sendiri yang menyatakan bahwa dirinya telah puas.
3.2 Aspek – Aspek Kepuasan Kerja
1.
Kerja yang secara mental menantang
2. Ganjaran
yang Pantas.
3. Kondisi
Kerja yang Mendukung.
4. Rekan
Kerja yang Mendukung
5. Kesesuaian
Kepribadian dengan Pekerjaan
3.3 Faktor - Faktor Penentu Kepuasaan Kerja
1.
Kondisi kerja
2.
Peraturan, budaya serta karakteristik yang ada dalam organisasi
tersebut
3.
Kompensasi
4.
Efisiensi kerja
5.
Peluang promosi
6.
Rekan kerja atau partner kerja
3.4 Konsekuensi Kepuasan Kerja
1. Ketidakhadiran
(absenteeism)
2. Pemberhentian
Kerja (turn over)
3. Pemberitaan
Negatif (negative publicity)
3.5 Cara Mengukur Kepuasan Kerja
1.
Pengukuran
kepuasan kerja dengan skala job description index
2.
Pengukuran
kepuasan kerja dengan Minnesota Satisfaction Questionare
3.
Pengukuran
kepuasan kerja berdasarkan ekspresi wajah
3.6 Hubungan
Kepuasan Kerja Dengan Semangat Kerja
Kepuasan kerja menyebabkan semangat kerja dan produktivitas
yang lebih tinggi, dan niat untuk tetap di organisasi. Salah satu faktor yang
berhubungan dengan semangat kerja adalah kepuasan kerja. Jika seseorang merasa
puas terhadap perlakuan yang diterimanya di tempat kerja, maka mereka akan
bersemangat untuk bekerja melebihi apa yang diharapkan perusahaan.
3.7 Pengertian Semangat Kerja
Semangat kerja adalah keinginan dan kesungguhan seseorang
mengerjakan pekerjaan dengan baik serta berdisiplin untuk mencapai prestasi
kerja yang maksimal (Hasibuan, 2001: 105)
3.8 Tingkat Stress
Stress adalah tekanan/ketegangan yang dihadapi
seseorang dan mempengaruhi emosi, pikiran, serta kondisi keseluruhan dari orang
tersebut. Stress dalam suatu lingkungan pekerjaan sampai dengan batas yang
dapat ditolerir bisa memberikan suatu rangsangan sehat guna mendorong
individu-individu dalam suatu organisasi untuk memberikan tanggapan positif
terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi sehingga mereka terpacu untuk
mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki dalam rangka memenuhi tugas dan
tanggung jawabnya. Bila ini yang terjadi maka stress pada akhirnya dapat
meningkatkan produktifitas/prestasi kerja.
3.9 Program, Fungsi, dan Tipe Konseling
Pada
perusahaan-perusahaan swasta yang telah maju mereka akan berusaha meningkatkan
kepuasan kerja dan menjaga tingkat stress yang sehat bagi karyawannya guna
meningkatkan produktifitas dan prestasi kerja sekaligus mempertahankan
karyawan-karyawan terbaiknya dengan sebaik-baiknya. Salah satu cara yang
ditempuh adalah menawarkan program-program konseling bagi para karyawan dengan
dukungan manajemen perusahaan. Fungsi dari konseling ada beberapa hal antara
lain :
1. Untuk kasus/permasalahan
yang tidak terlalu kompleks maka konseling dapat membantu pegawai mendapatkan
arahan, sehingga mampu untuk lebih berkonsentrasi pada tugas dan tanggung
jawabnya semula.
2. Mendapatkan ketentraman
hati
3. Mendapatkan kejelasan
yang lebih baik antar kedua pihak
4. Mendapatkan kejernihan
pikiran
5. Menemukan pandangan-pandangan
baru/reorientasi
Tipe-tipe konseling yaitu sebagai berikut :
1. Directive Conseling
2. Nondirecting Conseling
3. Cooperative Counseling
BAB IV
KESIMPULAN
Kepuasan
kerja itu penting dipelajari dalam kajian perilaku organisasi, karena dengan
mengetahui kepuasan kerja maka akan memudahkan bagi organisasi untuk
mengembangkan organisasinya tersebut.
Kepuasan
kerja merupakan sebentuk rasa senang terhadap apa yang telah dikerjakannya,
namun kepuasan kerja bersifat subjektif. Kepuasan antara individu satu dengan
individu lainnya cenderung berbeda, karena setiap individu mempunyai kriteria
kepuasan tersendiri dalam mengukur tingkat kepuasan hidupnya, namun kepuasan
pegaawai dalam bekerja dapat dilihat dari bagaimana kinerja pegawai tersebut
namun hal tersebut tidak menjamin pegawai merasa puas karena pada hakikatnya
manusia tidak mempunyai rasa puas.
Kepuasan
kerja (job satisfaction) mengacu pada keseluruhan sikap yang akan
terjadi pada diri setiap individu secara umum terhadap pekerjaannya.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja di antaranya kondisi
kerja/lingkungan kerja, peraturan atau budaya organisasi serta karakteristik
organisasi, kompensasi yang memuaskan, efisiensi kerja dan partner kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar,
Dimas Rizky. 2014. Pengaruh Kemampuan, Motivasi dan Kepuasan
Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kecamatan Tambaksari
Surabaya. Universitas Airlangga, Surabaya. Volume 2, Nomor 1,
Januari 2014.
Changgriawan, Garry Surya. 2017. Pengaruh Kepuasan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan di One Way Production. Universitas Kristen
Petra. Vol. 5, No. 3, 2017.
Desak Ketut Sintaasih, I Made Adi Suryadharma, dan I
Gede Riana. 2016. Pengaruh Kepemimpinan dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja dan
Kinerja Karyawan. Universitas Udayana, Bali. Vol.5, No.2,
2016.
Hashiolan
B Leonardo, Nasuka, Andi Tri Haryono. 2017. Pengaruh
Kepuasan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT BPR BKK
Semarang. Universitas Pandanaran, Semarang. Vol. 3, No. 3, 2017.
Joko
Utomo dan Suwardi. 2011. Pengaruh
Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Organisasional. Universitas
Muria Kudus. Vol. 5, No. 1, 2011.
Purwanto Didik, dan Rifdah Abadiyah. 2016. Pengaruh Budaya Organisasi, Kompensasi
Terhadap Kepuasan Kerja Dan Kinerja Pegawai Bank di Surabaya. Universitas
Muhammadiyah, Sidoarjo. Vol. 2, No.1, 2016.
Sanuddin, Florida Dessy Putri. 2013. Pengaruh Kepuasan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan PT Semen Tonasa. Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Vol. 25, No. 2, 2013.
Annisa, Sasha. 2015. Makalah Kepuasan Kerja.
Ginanjar, Donny. 2012. Makalah Kepuasan Kerja.
0 komentar:
Posting Komentar